Showing posts with label Tokoh Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Tokoh Indonesia. Show all posts

Jun 7, 2018

Biografi BJ Habibie - Presiden Ke 3 Republik Indonesia

Biografi BJ Habibie - Presiden Ke 3 Republik Indonesia

BJ Habibie, merupakan presiden ketiga Republik Indonesia. Beliau menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden pada tanggal 21 Mei 1998. BJ Habibie memiliki nama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie, lahir di pare – pare, Sulawesi Selatan pada tanggal 25 Juni 1936. BJ Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara.

Beliau adalah putra dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A Tuti Marini Puspowardojo. Ayahnya adalah ahli pertanian yang berasal dari etnis gorontalo dan memiliki keturunan bugis, sementara Ibunya anak seorang spesialis mata di Yogyakarta beretnis Jawa.

Ayahnya, Alwi Abdul Jalil Habibie sering membacakan ayat AL-Qur’an kepada BJ Habibie sejak kecil. BJ Habibie dikenal sebagai orang yang cerdas sejak duduk di bangku sekolah dasar. Beliau sangat populer karena prestasi – prestasi yang diraihnya.


Tidak hanya populer di Indonesia, tetapi beliau juga dikenal di Negara lain. BJ Habibie memiliki kegemaran menunggangi kuda dan juga membaca. Pada usia 14 tahun, BJ Habibie sudah ditinggalkan oleh Ayahnya tercinta.

Ayah BJ Habibie meninggal dunia pada tanggal 3 September 1950 lantaran serangan jantung. Sejak saat itu, Ibunya menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Ibunya menjual rumah dan kendaraannya dan pindah ke bandung bersama BJ Habibie.

BJ Habibie, dulunya sekolah di SMAK Dago, Bandung. Setelah menyelesaikan pendidikannya di SMAK Dago, beliau kemudian melanjutkan pendidikan di ITB (Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1954.

BJ Habibie kuliah di Teknik Mesin ITB selama enam bulan. BJ Habibie meneruskan pendidikannya di Rhenisch Wesfalische Tehniche Hochscule, Jerman. Disana BJ Habibie mengambil Teknik Penerbangan selama 10 tahun.

Setelah lulus, BJ Habibie bekerja sebagai Kepala Penelitian Dan Pengembangan pada Analisis Struktur Pesawat Terbang di perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman, yaitu Messerschmitt-Bolkow-Blohm (MBB) pada tahun 1965-1969.

Setelah itu, BJ Habibie kemudian menjabat sebagai Kepala Divisi Metode Dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer dari tahun 1969 hingga 1973. Beliaupun dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB periode 1973-1978 dan juga sebagai penasihat senior bidang teknologi untuk Dewan Direktur MB.

BJ Habibie merupakan orang Asia satu – satunya yang menduduki jabatan nomor dua di perusahaan pesawat terbang Jerman. Selama bekerja di Jerman, BJ Habibie menyumbang berbagai hasil penelitian dan sederet teori untuk ilmu pengetahuan dan teknologi Thermodinamika, Konstruksi dan Aerodinamika.

Habibie Faktor, Habibie Teorem dan Habibie Method merupakan beberapa rumusan teori BJ Habibie yang dalam dunia pesawat terbang.

BJ Habibie kembali ke Indonesia pada tahun 1973. BJ Habibie pulang ke tanah air untuk memenuhi panggilan dari Presiden Soeharto. Kala itu, Presiden soeharto mengutus Ibnu Sutowo ke Jerman untuk menemui serta membujuk BJ Habibie untuk pulang ke Indonesia.

Sejak kepulangannya ke Indonesia, BJ Habibie diangkat menjadi Menteri Negara Ristek/Kepala bppt selama 20 tahun. Beliau juga memimpin perusahaan BUMN Industri Strategis selama 10 tahun. BJ Habibie juga menduduki banyak jabatan lainnya.

Pada tahun 1995, BJ Habibie berhasil memimpin proyek pembuatan pesawat yang diberi nama N250 Gatot Kaca. Pesawat ini sekaligus merupakan pesawat pertama yang dibuat oleh Indonesia. Pesawat tersebut merupakan rancangan dan hasil desain BJ Habibie.

Pesawat ini menggunakan teknologi Fly By Wire. Teknologi pesawat yang canggih dan telah dipersiapkan untuk 30 tahun ke depan. Pada tanggal 14 Maret 1998 – 21 Mei 1998, melalui sidang MPR BJ Habibie terpilih sebagai wakil presiden Republik Indonesia untuk mendampingi Presiden Soeharto.

Semasa Soeharto menjabat sebagai presiden RI, banyak kejadian – kejadian yang akhirnya membuat beliau mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden. Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya pada tanggal 21 Mei 1998. Sejak saat itu, BJ Habibi pun kemudian diangkat menjadi presiden RI untuk menggantikan Presiden Soeharto.

BJ Habibie menjadi Presiden Republik Indonesia yang ketiga. BJ Habibie menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia dengan jangka waktu yang terbilang sangat singkat. BJ Habibie hanya menjabat selama 1 tahun 5 bulan. Saat beliau menjabat, kondisi Indonesia sedang ricuh. Pada akhirnya BJ Habibie, dilengserkan dari jabatannya.

Beliau dipaksa lengser karena persoalan Timor Timur, dimana BJ Habibie memperbolehkan Referendum Timor Timur yang memilih untuk merdeka. MPR menolak pidato pertanggungjawaban BJ Habibie. BJ Habibie resmi melepaskan jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia pada tanggal 20 Oktober 1999.

Setelah resmi melepaskan jabatannya, BJ Habibie memilih tinggal di Jerman. Akan tetapi, dimasa kepresidenan Susilo Bambang Yudhonyono, BJ Habibie aktif kembali sebagai penasihat presiden dalam mengawal proses demokratisasi di Indonesia lewat organisasi yang didirikan oleh BJ Habibie yaitu Habibie Center.

BJ Habibie memiliki istri bernama Hasri Ainun Besari. BJ Habibie mempersunting  Hasri Ainun Besari setelah BJ Habibie menyelesaikan pendidikannya di Jerman dan kembali ke Indonesia. Kisah mereka sangat menginspirasi. BJ Habibie menikah dengan Hasri Ainun Besari atau lebih dikenal dengan Ainun pada tanggal 12 Mei 1962.

Setelah menikah mereka kemudian pindah ke Jerman. Dari pernikahannya dengan Hasri Ainun Besari, BJ Habibie dikarunia dua orang anak, anaknya bernama Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie. Istrinya, Ainun merupakan teman SMA BJ Habibie. Ainun sendiri juga merupakan orang yang juga cerdas.

Semasa sekolah Ainun dan BJ Habibie memang sudah dikenal sebagai orang yang sama – sama cerdas. Saat sekolah, mereka pun sering dijodohkan oleh teman – temannya. Ainun merupakan mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI). Ainun juga pernah bekerja di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Pada tahun 2010, BJ Habibie akhirnya kehilangan Ainun, istri yang sangat dicintainya. Istri yang juga sangat setia dengan BJ Habibie. Istrinya meninggal tepatnya pada tanggal 23 Mei, beliau meninggal karena penyakit kanker.

Ketika mengetahui istrinya mengidap penyakit kanker, BJ Habibie langsung membawa Ainun ke Ludwig Maximilians Universitas, Klinikum Grosshadern, Munchen, Jerman. Ainun pun sudah menjalani beberapa operasi untuk kesembuhannya. Segala hal telah dilakukan untuk kesembuhan Ainun, namun takdir berkata lain. Sehari setelah menjalani operasi besar, akhirnya Ainun menghembuskan nafas terakhirnya.

Jenazah Ainun dipulangkan dari Jerman pada tanggal 24 Mei 2010 dan tiba di Indonesia pada tanggal 25 Mei 2010. Setibanya di Indonesia, Ainun kemudian dimakamkan di taman makam pahlawan kalibata. Hingga saat ini sosok Ainun dikenang oleh keluarga dan seluruh masyarakat di Indonesia.

Selain sosok Ainun yang sangat setia dengan suaminya, BJ Habibie pun demikian. Beliau sangat setia dengan Ainun, istrinya. Untuk menunjukkan kesetiaannya, BJ Habibi pun ingin dimakamkan di dekat istrinya ketika meninggal suatu saat nanti.

Kisah BJ Habibie dan Ainun ini sangatlah menginspirasi banyak orang. Bahkan kisah mereka telah dituangkan dalam sebuah film yang berjudul Habibie & Ainun.

Sumber:
https://tekno.tempo.co/read/1066886/kisah-bj-habibie-teori-pesawat-hingga-kisah-cinta-romantis
https://www.google.co.id/amp/s/m.viva.co.id/amp/siapa/read/11-bacharuddin-jusuf-habibie
https://lifestyle.okezone.com/read/2016/11/09/481/1537489/hari-pahlawan-kisah-pengabdian-hasri-ainun-habibie-di-dunia-kesehatan?page=2
https://www.biografiku.com
https://id.m.wikipedia.org/wiki/bacharuddin_jusuf_habibie
https://rula.co.id/post/8-pelajaran-berharga-dari-hasri-ainun-besari-ibu-negara-dengan
www.infobiografi.com/biografi-dan-profil-lengkap-bj-habibie
www.infoakurat.com/2015/07/biografi-bj-habibie.html?m=1
bio.or.id/biografi-presiden-b-j-habibie/
https://www.google.co.id/amp/s/www.akupaham.com/biografi-bj-habibie/amp/

Mar 27, 2018

Biografi Laksamana Cheng Ho

Biografi Laksamana Cheng Ho

Laksamana Zheng He, atau Cheng Ho, Sam Po Kong, Sam Po Toa Lang, Sam Po Thay Jien, Sam Po Thai Kam, atau Haji Mahmud Shams (nama Arab) adalah seorang pelaut sekaligus penjelajah dunia terkenal yang berasal dari Cina yang melakukan beberapa perjalanan pada sekitar tahun 1405-1433 di masa pemerintahan Kaisal Yongle (kaisar ketiga Dinasti Ming). Laksamana Cheng Ho pernah menjadi pemimpin armada terbesar dan terkuat di dunia dengan membawa 300 kapal dengan 30 ribu tentara dan anak buah kapal.

Terlahir dengan nama Ma He pada tahun 1371 M, dan merupakan anak kedua dari Ma Hazhi dan Wen. Terlahir dari kedua orang tua yang berasal dari Yunnan dan bersuku Hui yang mayoritas beragama Islam, dimana ayahnya dikenal dengan nama Haji Ma, kata Hazhi sendiri diketahui berasal dari bahasa arab Hajj yang diberikan pada ayah Cheng Ho yang sudah melaksanakan ibadah haji di Mekkah. 


Pada usia 12 tahun pasukan Ming berhasil menaklukkan Yunan, dan ayahnya Haji Ma yang merupakan seorang kepala suku memimpin perlawanan melawan Kaisar kedua dinasti Ming, dan beliau mati dalam pertempuran. Cheng Ho kecil sangat sedik dengan kepergian ayahnya, ditambah lagi melihat ibu dan adiknya yang ditawan.

Cheng Ho memberikan penawaran untuk menjadi kasim (abdi dalam) kerajaan Ming dan rela untuk dikebiri asalkan adik dan ibunya di bebaskan, melihat keberanian dari Cheng Ho, Jendral Poh Yu Te yang menjadi pemimpin pasukan kerajaan Ming di Yunan saat itu akhirnya memenuhi permintaan Cheng Ho tersebut. Cheng Ho dikenal sebagai kasim yang rajin, berdisiplin tinggi, dan taat dalam menjalankan ibadahnya sebagai seorang muslim.

Bahkan Cheng Ho juga aktif untuk membantu kerajaan Ming dalam memperluas daerah kekuasaannya, perawakannya yang tinggi besar dan wajah lebar membuatnya nampak gagah dan kharismatik untuk bisa dipercaya menjadi seorang pemimpin. Seorang sejarawan Cina menyebut bahwa Cheng Ho sering menunaikan ibadah di Mesjid Niuw Che yang merupakan mesjid tertua di Beijing yang dibangun oleh seorang imam dari Persia. Sampai sekarang Mesjid Niuw Che masih ada dan dilindungi oleh pemerintah Cina, selain itu mesjid ini juga dijadikan sebagai monumen Islam.

Dalam sejarah tercatat ada 7 kali misi penjelajahan yang dipimpin oleh Laksamana Cheng ho, ada banyak kerajaan dan negara yang dilewatinya saat itu, namun dengan kekuatan militer yang dimilikinya saat itu Cheng Ho selalu bersikap persuasif dan tidak melakukan penjajahan, meskipun misinya untuk memperluas wilayah kekuasaan Dinasti Ming namun Cheng Ho menghormati kedaulatan kerajaan atau negara lain.


Kapal Cheng Ho
Penjelajahan Laksamana Cheng Ho

Pelayaran pertama pada sekitar tahun 1405, dimana sebelum berangkat Laksamana Cheng Ho memimpin armadanya untuk menunaikan ibadah shalat di sebuah mesjid di kota Quanzhou. Ekspedisi pertama ini mampu mencapai wilayah Selat Malaka, Sumatera dan Jawa.

Pada tahun 1407-1408 Laksamana Cheng Ho kembali melakukan penjelajahan laut kedua dengan rute yang sama namun mampu menembus sampai Srilanka.

Ekspedisi  yang ketiga dilakukan kembali pada tahun 1409-1411 dan kali ini mampu mencapai Srilanka, India, dan semenanjung Afrika

Pada misi penjelajahan keempat ditahun 1413-1415 Laksamana Cheng Ho mampu mencapai Teluk Persia, Afrika Timur (Mogadishu), Maladewa dan Aden.

Ekspedisi yang kelima ditahun 1416-1419 mengulangi kembali rute penjelajahan keempat

Pada penjelajahan yang keenam di tahun 1421-1422 rute perjalanan semakin luas dan mampu mencapa negara-negara di Jazirah Arab atau Timur Tengah, dan meskipun tidak ada bukti otentik tentang kehadiran Cheng Ho di  Mekkah, namun sebagian orang meyakini bahwa pada ekspedisi keenam ini Cheng Ho melaksanakan rukun Islam kelima yaitu menunaikan ibadah Haji.

Pelayaran Laksamana Cheng Ho yang ketujuh pada tahun 1430-1433 mampu mencapai laut merah, Afrika dan Timur Tengah.

Kapal yang digunakan oleh Laksamana Cheng Ho disebut juga “kapal pusaka” dan merupakan kapal terbesar di abad ke-15, dimana panjangnya mencapai 138 m (44,4 zhang) dan lebar 56 m (18 zhang). Bahkan menurut sejarawan JV Mills kapal tersebut berkapasitas 2500 ton. Dan diperkirakan besarnya lima kali dari pada kapal Columbus. Model kapal Laksamna Cheng Ho ini kemudian menjadi inspirasi bagi petualang Portugal dan Spanyol untuk menjelajahi Asia.

Ekspedisi Cheng Ho
Laksamana Cheng Ho menjelajahi berbagai negara di Asia sampai Afrika, diantaranya adalah :

1. Malaka, Penang, dan Kelantan (bagian dari Malaysia)Taiwan
2. Vietnam
3. Pulau Sumatera, Pulau Jawa (bagian dari Indonesia)
4. Sri Langka
5. India (bagian selatan)
6. Teluk Persia
7. Timur Tengah (Jazirah Arab)
8. Laut Merah (Utara Mesir)
9. Afrika sampai selat Mozambik

Dalam setiap ekspedisi Laksamana Cheng Ho membawa perbekalan berupa hewan ternak yang digunakan sebagai bahan makanan bagi para anak buah kapalnya selama melakukan penjelajahan serta kain sutera untuk dijual. Dan setiap kali kembali dari penjelajahan Admiral Cheng Ho selalu membawa pulang berbagai buah tangan mulai dari penghargaan dari 30 lebih kerajaan, termasuk Raja Alagonakkara dari Sri Lankah yang bahkan datang ke Cina untuk meminta maaf pada Kaisar Tiongkok saat itu.

Barang-barang berupa kulit, getah poho, batu berharga seperti permata, ruby, emerald dan lain sebagainya. Bahkan beberapa binatang asli Afrika seperti Jerapah dari Raja Afrika saat itu juga dibawa pulang dan dipersembahkan pada kaisar.

Ketangguhan armada Laksamana Cheng Ho dalam melakukan penjelajahan membuat namanya terkenal, bahkan Majalah Life menempatkan Admiral Cheng Ho di urutan nomor 14 sebagai orang terpenting pada millennium terakhir. Peta navigasi yang digunakan Cheng Ho bahkan mampu merubah peta navigasi dunia.

Armada kapal Laksamana Cheng Ho merupakan yang terbesar sepanjang sejarah dan sampai saat ini kapal kayu yang digunakannya memiliki kayu terbanyak dan terbesar yang pernah ada. Admiral Cheng Ho dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana, hal ini terbukti dari banyaknya armada laut yang dibawahnya, tapi beliau tidak pernah melakukan penjajahan di wilayah manapun armadanya merapat, bahkan Admiral Cheng Ho lebih suka melakukan pendekatan yang persuasif dan menjalin kerja sama dan bisnis dan tetap menjaga kedaulatan kerajaan yang disinggahinya, hal ini jugalah yang membuat proses asimilasi dengan masyarakat lokal dan penyebaran agama Islam berlangsung dengan damai.

Sebagai seorang muslim yang taat diketahui bahwa bulan Ramadan merupakan waktu yang paling disukai oleh Admiral Cheng Ho, dimana ketika Ramadan tiba Cheng Ho lebih memilih untuk pulang ke kampung halamannya untuk menjalankan ibadah puasa, karena merasa di kampungnya suasananya lebih semarak. Setiap kali berlayar Laksamana Cheng Ho selalu membawa tokoh muslim untuk memimpin berbagai aktivitas keagamaan selama pelayaran seperti penguburan jenajah di laut, memimpin shalat hajat saat armadanya harus menghadapi ganasnya badai dilautan, serta shalat berjamaah sebelum melakukan pelayaran.

Pengaruh Laksamana Cheng Ho di Indonesia
Laksamana Cheng Ho tercatat melakukan ekspedisi sebanyak tujuh kali dan setiap kali berlayar pasti selalu mengunjungi wilayah Indonesia. Saat singgah di Samudera Pasai, Cheng Ho memberikan buah tangan pada Sultan Aceh berupa lonceng raksasa “Cakra Donya” yang sampai saat ini masih tersimpan di mesium Banda Aceh.

Sedangkan saat berlabuh di Cirebon (Muara Jati) Laksamana Cheng Ho memberikan cindera mata pada Sultan Cirebon berupa piring keramik bertuliskan ayat kursi dan masih tersimpan di Keraton Cirebon. Laksamana Cheng Ho juga bahkan sempat mengunjungi kerajaan Majapahit dimasa pemerintahan Raja Wikramawardhana.

Bahkan di Semarang terdapat peninggalan Laksamana Cheng Ho berupa Kelenteng Sam Po Kong serta sebuah patung  yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong. Besarnya pengaruh di Semarang terjadi karena pada saat melakukan ekspedisi melalui Laut Jawa, salah satu orang kepercayaan Laksamana Cheng Ho menderita sakit keras, sehingga akhirnya armada harus merapat di pantai Simongan, Semarang. Di masa penyembuhan inilah proses asimilasi (pembauran) dan penyebaran agama Islam di Semarang berlangsung.

Admiral Cheng Ho juga dikenal sebagai orang yang dermawan dan peduli dengan kemakmuran mesjid, dimana tercatat pada tahun 1413 beliau mendukung renovasi Mesjid Qingging, dan pada tahun 1430 beliau juga merenovasi Mesjid San San di  Nanjing yang rusak akibat kebakaran.

Ekspedisi terakhir yang dilakukan pada tahun 1432 di wilayah Lautan Hindia dan dan Sri Lanka. Setelah itu beliau lebih banyak menjalankan aktivitas keagamaan dan sebelum wafat beliau berpesan agar jenajahnya di benamkan di laut sebelum matahari terbenam.

Laksamana Cheng Ho wafat karena sakit dengan tasbih ditangannya. Kepergian sang legenda ditangisi oleh banyak orang, terutama para prajurit dan anak buah kapal yang  pernah di pimpinnya.

Menurut sejarawan Cina, permintaan Laksamana Cheng Ho untuk dibenamkan dilaut tidak jadi dilakukan karena tidak ada seorangpun yang berani membenamkan jenazah sang pelaut ulung nan arif dan bijaksana ini, sehingga pada akhirnya jenazahnya di makamkan di depan sebuah mesjid di Nanjing dalam sebuah upacara kebesaran militer yang dihadiri langsung oleh Kaisar Dinasti Ming pengganti Kaisar Yongle yaitu Kaisar Xuande.

Mar 16, 2018

Biografi Margono Djojohadikusumo - Pendiri Bank BNI

Biografi Margono Djojohadikusumo - Pendiri Bank BNI

Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang dipenuhi oleh orang-orang hebat dan para pahlawan yang cukup berpengaruh dibidangnya baik dari kalangan politik, militer maupun pendidikan. Salah satu tokoh yang cukup dikenal di Indonesia berkat jasa-jasa dan perannya di berbagai bidang yang digelutinya adalah Margono Djojohadikusumo.

Di kalangan muda seperti saat ini memang tokoh ini kurang begitu dikenal, namun jika cucu beliau pasti sudah banyak yang mengenalnya karena cukup familier. Margono Djojohadikusumo adalah kakek dari tokoh pendiri Partai Gerindra yakni Prabowo Subianto yang pernah mencalonkan diri menjadi Presiden Republik Indonesia.

RM. Margono merupakan tokoh politik dan pejuang yang sifat dan perjuangannya layak diteladani oleh generasi muda penerus bangsa. Begitu banyak hasil perjuangan yang beliau rintis semasa hidupnya salah satunya yang bisa kita nikmati hingga sekarang adalah kemudahan pelayanan di bidang perbankan dari Bank BNI.

Tentunya perjuangan RM. Margono tidak hanya sampai di situ, namun lebih banyak dari itu. Lantas bagaimana sepak terjang Margono Djojohadikusumo lainnya selama hidupnya hingga menutup mata? Untuk lebih jelasnya simak informasi lebih jelas dalam biografi RM. Margono berikut.

Informasi pribadi Margono Djojohadikusumo
Margono Djojohadikusumo merupakan cucu buyut Panglima Banyakwide atau Raden Tumenggung Banyakwide yang menjadi anak dari asisten Wedana Banyumas serta pengikut dari Pangeran Diponegoro yang setia.

Pendiri dari salah satu bank terbesar di Nusantara yakni Bank Negara Indonesia (BNI) ini pernah bersekolah di ELS (Europeesche Legere School) Banyumas. ELS Banyumas tersebut merupakan Sekolah Dasar di Banyumas yang berada pada jaman kolonial Belanda dari 1900 hingga 1907.

Pendiri Bank BNI
Margono Djojohadikusumo terlahir tanggal 16 Mei 1894 di kota Banyumas, Jawa Tengah, Negara Hindia Belanda. Kemudian beliau meninggal dunia pada usia 84 tahun pada tanggal 25 Juli 1978 di Jakarta, Indonesia. Bapak Margono Djojohadikusumo yang beragama islam tersebut memiliki istri seorang bernama Siti Katoemi Wirodihardjo.

Margono Djojohadikusumo  adalah orangtua dari  Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo yakni sang Begawan Ekonomi Indonesia, serta ayahanda dari 2 orang remaja yang meninggal ketika pecahnya Pertempuran Lengkong di Serpong pada tahun 1946 yakni: Taruna Soejono Djojohadikusumo (16 tahun) dan Kapten Anumerta Soebianto Djojohadikusumo (21 tahun).

Kejadian gugurnya kedua putra RM. Margono pada usia remaja tersebut merupakan kesedihan terbesarnya. Kemudian kedua nama anaknya yang meninggal tersebut dikenang melalui nama sang cucunya yakni mantan Pangkostrad dan Danjen Kopassus serta politikus Prabowo Subianto dan Hashim Sujono yang berprofesi sebagai seorang pengusaha.
    Saat Soemitro tidak lagi sejalan dengan Bung Karno dalam hal PRRI maka sang ayah ternyata ikut sependapat dengan sang anak. Lalu mereka sekeluarga pindah ke Kuala Lumpur dan menetap di sana selama beberapa tahun.  Meski begitu pada bukunya berjudul Kenangan Tiga Zaman yang aslinya berjudul Herinneringen uit Drie Tijdperken, Bung Karno ternyata tetap digambarkan sebagai sosok Pahlawan.
Margono Djodjohadikusumo
Sepak terjang Margono Djojohadikusumo semasa hidupnya
    Semasa hidupnya, Margono Djojohadikusumo cukup berdedikasi dan menjadi tokoh yang cukup berpengaruh di masanya. Hal ini terbukti dari berbagai perannya dalam berbagai organisasi bahkan mendirikan sebuah bank yang saat ini cukup terkenal serta pesat perkembangannya. Adapun sepak terjang Margono Djojohadikusumo selama hidupnya antara lain:

1. Hak angket
Hak angket dalam sejarah ketatanegaraan republik Indonesia, digunakan pertama kali oleh DPR sekitar tahun 1950-an. Hal ini bermula dari usul resolusi dari RM. Margono Djojohadikusumo supaya DPR atas upaya memperoleh devisa serta cara menggunakan devisa untuk mengadakan Hak Angket.
Kemudian dibentuklah panitia angket dengan anggota sebanyak 13 orang dimana Margono ditunjuk sebagai ketua. Panitia angket ini berperan dalam menyelidiki untung serta rugi dalam mempertahankan devisen-regime sesuai Undang-Undang Pengawasan Devisen pada 1940 berikut perubahan-perubahannya.

2. Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara
Satu hari usai Bung Karno dan Bung Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden dilantik, kemudian dibentuklah DPS atau Dewan Pertimbangan Agung Sementara dan Kabinet Presidentil. Kemudian Margono Djojohadikusumo ditunjuk untuk menjadi Ketua DPAS pertama.
Beliau menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara ke-1 dengan masa jabatan dari tanggal 25 September 1945 hingga 6 November 1945. Kemudian setelah lengser, beliau digantikan oleh Raden Aria Adipati Wiranatakoesoema V.

3. Direktur Utama Bank BNI
Selaku Ketua DPAS, kemudian Margono Djojohadikusumo mengusulkan untuk membentuk sebuah Bank Sirkulasi atau Bank Sentral sebagaimana yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945.
Kemudian Soekarno dan Hatta menyampaikan mandat untuk Margono supaya menggagas sekaligus melaksanakan persiapan dalam membentuk Bank Sirkulasi (Bank Sentral) Indonesia yakni di bulan September tepatnya pada tanggal 16 tahun 1945.

Sidang Dewan Menteri RI pada tahun 1945 tepatnya tanggal 19 September menetapkan untuk dibentuknya bank Negara yang berperan sebagai Bank Sentral atau Sirkulasi. Akhirnya terbitlah Perpu No. 2 tahun 1946 pada tanggal 15 Juli 1946 yakni terkait didirikannya BNI serta Margono Djojohadikusumo ditunjuk sebagai Dirut Bank BNI (Bank Negara Indonesia).
Selama beliau menjabat sebagai Direktur Utama Bank BNI, status hukum dari Bank BNI naik menjadi Persero yakni pada tahun 1970.


Bibliografi dari Margono Djojohadikusumo
    Tidak hanya piawai dalam sepak terjang di dunia politik, Margono Djojohadikusumo juga menelurkan karyanya pada buku-buku hasil tulisannya. Buku-buku hasil karya bapak Margono tersebut antara lain:
1.    Sriwibawa, Sugiarta (1994), “100 tahun Margono Djojohadikusumo”, Jakarta: Pustaka Aksara
2.    Djojohadikusumo, Margono (1969). “Reminiscenses from three historical periods a family tradition put in writing”, Jakarta: Indira
3.    Djojohadikusumo, Margono (1975), “Catatan-catatan dari lembaran kertas yang kumal DR. E.F.E Douwes Dekker (DR. Danudirja Setiabudi), seorang yang tak gentar menjunjung tinggi suatu cita-cita hidup kemerdekaan politik Indonesia”, Jakarta: Bulan Bintang
4.    Djojohadikusumo, Margono (1946), “Kenang-kenangan dari tiga zaman”, Jakarta: Indira
5.    Djojohadikusumo, Margono (1941), “Tien jaren cooperatie-voorlichting vanwege de overhead 1930-1940”, Batavia: Volkslectuur

Mengenal Margono Djojohadikusumo beserta leluhur Prabowo Subianto lainnya
    RM. Margono Djojohadikusumo yang merupakan kakek dari Prabowo Subianto ini merupakan salah satu generasi muda nasionalis. Beliau merupakan nasionalis muda angkatan di bawah Dr. Cipto Mangunkusumo, Tirto Adi Suryo, seorang Indo-Belanda Dauwes Dekker (Danu Dirja Setiabudi) dan Ki Hadjar Dewantara.
    Margono tercatat sebagai putra dari Lembah Serayu yang pada tanggal 29 April tahun 1945 diangkat menjadi anggota BPUPKI, sehingga turut serta ketika proses penggodogan Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia.
    Saat Bung Karno selaku Presiden dan Moh. Hatta sebagai Wakil Presiden membentuk Kabinet Presidentil ke-1. RM. Margono didaulat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara atau DPAS.
    Ketika Kabinet Syarir telah terbentuk, RM. Margono memberikan usul supaya NKRI membentuk sebuah bank sirkulasi. Usul tersebut kemudian disetujui dan akhirnya BNI terbentuk dimana RM. Margono diangkat sebagai Direktur Utama.
    Ayah RM. Margono merupakan seorang Wedana Banyumas yang berhasil menyelesaikan pendidikannya di ELS. Sepertinya beliau merupakan seorang autodidak yang begitu cerdas sehingga dapat meraih puncak dari jenjang karir yang begitu tinggi.
    Kemungkinan besar Margono telah mengenal Syahrir cukup lama melalui Pendidikan Nasionalis Indonesia) Baru atau PNI-Baru yakni sebuah partai kader yang cukup aktif menyumbangkan kursus-kursus di bidang kebangsaan, ekonomi dan politik.
    PNI-Baru dipelopori serta didirikan oleh Syahrir dan Bung Hatta, sesudah Partai Nasionalis Indonesia atau PNI yang didirikan oleh Soekarno membubarkan diri berkat inisiatif dari Mr. Sartono. Alasan Mr. Sartono membubarkan PNI gagasan Soekarno adalah akibat Bung Karno ditahan di Penjara Sukamiskin sebagai pertimbangan mendasar guna membubarkan partai dengan haluan radikal tersebut.
    Setelah Syahrir dan Hatta ditangkap dan kemudian dibuang oleh Belanda ke Digul serta dipindahkan ke Banda, PNI-Baru akhirnya juga bubar.  Namun Syahrir-Hatta juga sempat membentuk jaringan kader yang cukup luas di seluruh penjuru Tanah Air secara khusus di Pulau Jawa yakni di wilayah Banyumas.
    Kader-kader Syahrir dalam PNI-Baru tersebutlah kelak yang menjadi inti dari Partai Sosialis yang dipimpin Syahrir. Sepertinya Margono Djojohadikusumo yang terpilih menjadi anggota BPUPKI ialah melalui pengaruh Syahrir dan Hatta yang telah dikenalnya ketika pelatihan kaderisasi PNI-Baru.
    Kedepannya sang putra yakni Sumitro akan menjadi kader partai sosialis yang menjadi kesayangan Syahrir yang begitu spesial akibat bakat dan talentanya yang luar biasa di bidang ekonomi. Memang ada yang menarik jika kita menelusuri rekam jejak para tokoh-tokoh sosialis. Rata-rata mereka merupakan tokoh autodidak yang ulet, rajin dan tekun termasuk Syahrir sendiri.
    Syahrir tidak pernah menyelesaikan bangku kuliahnya, namun beliau merupakan seorang autodidak yang cukup tangguh. Begitupun para anak didiknya yang berhasil menjadi tokoh publik, misalnya: Sujatmoko, Sugondo Djojopuspito, Rosihan Anwar, Muchtar Lubis dll. Bahkan cucu RM. Margono yakni Prabowo juga mewarisi tradisi para tokoh sosialis yang juga banyak dikenalnya.
    Dalam budaya autodidak sebagaimana kalangan para tokoh sosialis generasi pemula, bapak Soeharto bukanlah tokoh sosialis tapi sepertinya terinspirasi oleh mereka yang merintis karir lewat budaya autodidak. Pandangan yang sekuler terhadap agama namun tidak anti agama juga merupakan ciri yang menonjol lainnya dari para tokoh Partai Sosialis generasi awal.
    Mereka adalah sosok kosmopolitan namun tetap seorang nasionalis serta suka melakukan perkawinan lintas kebangsaan dan agama, namun tetap setia terhadap agama leluhurnya yakni Islam. Syahrir menikahi seorang perempuan berkebangsaan Belanda, begitupun Takdir Ali Syahbana, Dr. Cipto Mangunkusumo bahkan ayah Prabowo yakni Sumitro.
    Bisa jadi akibat menjadi menantu bapak Soeharto, Prabowo memiliki sikap yang lebih menonjol sebagai seorang nasionalis yang religius dibanding ciri-ciri seorang nasionalis. Darah pejuang dan bakat intelektual yang terlihat pada Margono Djojohadikusumo yakni saat beliau menata dunia perbankan di Indonesia.
    Beliau merupakan tokoh dibalik pendirian Bank Negara Indonesia (BNI). 3 orang putra beliau yang juga mempunyai bakat pejuang dan intelektual yakni Subianto, Sumitro serta Sujono. Putra sulung Margono Djojohadikusumo yakni Sumitro merupakan sosok yang mempunyai bakat intelektual yang begitu luar biasa.
    Dengan alasan tersebut Margono Djojohadikusumo mengarahkan pendidikan Sumitro supaya dapat mengembangkan bakat intelektualnya yakni dengan mengirimkannya untuk sekolah di universitas terbaik di wilayah Eropa. Sedang Putra kedua dan ketiga yakni Subianto dan Sujono sepertinya memang mewarisi darah pejuang yang berasal dari para leluhurnya.
    Kedua orang tersebut memutuskan untuk masuk Akademi Militer Tangerang yang berdiri pada bulan November tahun 1945 dibawah komando yang dipimpin Mayor Daan Mogot. Pada tanggal 25 Januari tahun 1946 perang mempertahankan kemerdekaan meletus di beberapa wilayah.
Mayor Wibowo dan Mayor Daan Mogot yang didampingi Letnan Satu Subianto memimpin sebanyak 70 siswa Akademi Militer Tangerang untuk menuju Lengkong. Akhirnya pertempuran sengit namun tidak seimbangpun terjadi. Ketika pertempuran tersebut 32 orang siswa Akademi Militer Tangerang tersebut gugur.
Siswa yang gugur sebagai kusuma bangsa tersebut termasuk juga Lettu Subianto (21 tahun), Taruna Sujono (16 tahun) serta Mayor Daan Mogot. Dua orang pertama merupakan putra kedua dan ketiga dari RM. Margono Djojohadikusumo yang juga paman Prabowo dan adik Sumitro. Yang jelas Prabowo belum lahir ketika pamannya tersebut gugur sebagai kusuma bangsa.
Prabowo baru terlahir tahun 1951 atau lima tahun kemudian. Margono Djojohadikusumo dari Sumitro memiliki 4 orang cucu yakni Marjani Ekowati Le Maistre, Biantiningsih Miderawati, Hashim Sujono dan Prabowo Subianto. Nama dari putra Margono Djojohadikusumo yang gugur ketika remaja tersebut diabadikan untuk melengkapi 2 nama cucu putranya yakni Hashim dan Prabowo.
   
Margono Djojohadikusumo Meninggal Dunia
    Margono Djojohadikusumo meninggal dunia di Jakarta  pada 25 Juli 1978 serta disemayamkan di pemakaman keluarga yang terdapat di Dawuhan, kota Banyumas, Jawa Tengah. Pada waktu itu Bung Hatta ikut melepas jenazah beliau di Taman Matraman Jakarta menuju pemakaman keluarga di Banyumas, lokasi dimana para leluhurnya disemayamkan.
Pendiri Pusat Bank Indonesia yang diganti namanya pada tahun 1946 menjadi Bank Negara Indonesia ini merupakan seseorang yang telah berusia lanjut namun senantiasa sehat wal afiat. Baru pada tahun 1978 tersebut kesehatannya terlihat menurun. Bahkan 2 hari sebelum meninggal, bapak Margono masih melakukan transaksi dagang untuk salah satu perusahaan miliknya.
Pada hari Selasa tanggal 25 Juli 1978 pagi, beliau pergi ke kamar mandi. Ternyata di tempat tersebut beliau terkena serangan jantung. Karena kulit hitam dan perawakannya yang kecil, almarhum kerap menyebut dirinya sebagai een klein Negertje atau si negro kecil.
Beliau adalah seorang putra bangsawan dari turunan ke-13 Adipati Mrapat. Meski beliau masih termasuk keturunan bangsawan, namun almarhum merupakan bangsawan yang berjiwa kerakyatan. Berdasarkan pernyataan Subagijo IN, beliau senantiasa berbahasa kromo inggil kepada siapa saja yang dapat berbahasa Jawa.

Penghargaan yang diraih Margono Djojohadikusumo
    Segala hal yang telah beliau lakukan selama hidupnya memang patut untuk diberikan penghormatan dan penghargaan. Sebagai bangsa yang bermartabat, mengenang jasa pahlawan menjadi salah satu upaya untuk meneladani sekaligus berupaya melanjutkan perjuangannya.
 Untuk menghargai segala peran dan jasa yang pernah dilakukan beliau, Margono Djojohadikusumo mendapat penghargaan berupa:
1. Nama R.M Margono Djojohadikusumo diabadikan sebagai sebuah nama jalan di ruas Jakarta
2. Gedung R.M Margono Djojohadikusumo yang terdapat di Universitas Gajah Mada Yogyakarta diberikan nama sesuai dengan nama beliau
3. Kisah beliau semasa hidup menjadi inspirasi pada pembuatan film yang bertajuk Merah Putih

Margono Djojohadikusumo adalah sosok pahlawan dari kalangan bangsawan yang santun dan berbakat. Begitu banyak hasil karya dan perjuangan Margono Djojohadikusumo yang harus dijaga dan diteladani terutama para pemuda generasi penerus bangsa. Beliau bisa menjadi inspirasi banyak orang untuk menjadi pribadi yang tekun, ulet dan penyabar ketika masa-masa perjuangan.